5.11.2009

Sepak Bola VS Rusuh

Dunia sepak bola di negeri kita memang sangat memprihatinkan. bagaimana tidak? selama ini kita dihadirkan oleh pertandingan-pertandingan yang tidak atraktif. kerusuhan sepertinya sudah mengakar begitu kuat dalam kancah persepak-bolaan Indonesia. Baru-baru ini kerusuhan sepak bola terjadi di Jawa Timur, pertandingan antara Persebaya Surabaya dan persibo Bojonegoro rusuh, kemudian di Sulawesi pertandingan antara Persigo Gorontalo dan Persibom Boloang Mongondow juga rusuh. Emosi pemain, emosi official dan emosi para supporter fanatik terhadap klubnya kerap kali menghadirkan suguhan dan tontonan yang kadang sama sekali tidak manusiawi. Wasit acap kali terkena batunya,dikeroyok oleh pemain bahkan juga dikeroyok oleh penonton yang masuk kelapangan hingga babak belur. Permainan keras dan keberpihakan yang dilakukan oleh wasit terhadap salah satu klub sering dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan dan kerusuhan. Padahal wasit itu juga manusia, dan permainan sepak bola adalah permainan manusia yang tentunya pasti memiliki kekurangan dalam setiap pertandingannya. Adalah sesuatu yang wajar, apabila terjadi kesalahan yang dilakukan oleh wasit dalam setiap pertandingan. Rusuh antar supporter, perkelahian antar pemain dan wasit seolah-olah sudah menjadi hal yang biasa. Apakah masyarakat di negeri ini sudah tidak memiliki rasa kemanusiaan, rasa empati, dan simpati?.

Sangat ironis apabila kita melihat perjalanan sepak bola Indonesia, prestasi yang diharapkan tidak kunjung datang, dan yang terjadi malah aksi-aksi anarkis dalam pertandingan bola. Apa yang salah dalam sepak bola kita?. PSSI sebagai induk dari persepak bolaan tanah air seharusnya menjadi sorotan yang serius, ini terkait dengan keputusan-keputusan yang kadang kontrofersial, contohnya hukuman yang dijatuhkan terhadap klub atau pemain yang melakukan kesalahan terkadang dicabut dengan alasan berbagai pertimbangan. Bagaimana pemain akan jera, kalau hukuman yang dijatuhkan sama sekali tidak menimbulkan efek jera. Coba kita bandingkan dengan Inggris, seorang Didier Drogba, pemain Chealse terancam terkena sanksi karena mengeluarkan kata-kata yang menghina wasit. Setidaknya itu menjadi bahan referensi agar induk sepak bola di Indonesia juga melakukan hal yang sama, ketika seorang wasit menjadi incaran pemain untuk melampiaskan emosinya.

Masyarakat Indonesia menginginkan suguhan dan tontonan yang menarik dalam setiap pertandingan. Dan itu adalah hal yang mungkin bisa terwujud apabila setiap perangkat pertandingan, pemain, dan supporter bisa menjaga dan menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan oran lain. Membayangkan keindahan permainan sepak bola di Indonesia adalah harapan setiap masyarakat pecinta sepak bola dinegeri ini. Jadi tunjukan prestasi dan hindari kerusuhan adalah harga mati yang harus diwujudkan demi kemajuan sepak bola Indonesia.


[+/-] Selengkapnya...

2.28.2009

Fenomena Ponari, Potret Kemiskinan Rakyat


Rakyat indonesia saat ini memang sedang sakit, sakit mental, sakit pikiran, sakit akidah, sakit moral dan sakit beneran. Memang tidak semuanya sih, hanya sebagian besar saja dari jutaan rakyat di negeri ini. Tapi itu sudah cukup untuk mewakili statement bahwa rakyat benar-benar sedang sakit. Bagaimana tidak?, coba kita lihat fenomena ponari yang baru-baru ini begitu menggemparkan, hanya dengan sebuah batu yang konon pernah disambar petir dan dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit, ribuan orang berbondong-bondong datang ke rumah ponari untuk berobat dan berharap akan kesembuhan penyakitnya. Hal yang sunnguh jauh berada diluar nalar dan akal sehat manusia.

Fenomena dukun cilik ponari merupakan potret betapa buruknya perekonomian bangsa ini, sebuah potret yang menggambarkan kemiskinan rakyat indonesia. Kemiskinan yang akhirnya bisa membawa masyarakat berbuat dan bertindak dalam hal-hal yang berada diluar batas nalar. Apa yang dilakukan oleh ponari dengan batu ajaibnya oleh masyarakat dianggap sebagai solusi terbaik untuk mengatasi masalah penyakit yang dialami, karena rumah sakit yang ada tidak bisa memberi pelayanan yang baik terhadap masyarakat.

Biaya berobat yang mahal, memang menjadi momok bagi masyarakat kita, tidak ada uang berarti tidak ada pengobatan, hal yang akhirnya membuat masyarakat berpaling pada sesuatu yang mustahil. Dengan cuma mengeluarkan uang Rp.5000 meski harus antre berhari-hari, mereka berharap kejaiban akan datang dan nasib baik berpihak pada mereka. keberuntungan yang mungkin bisa membuat penyakitnya sembuh.

Masyarakat indonesia terutama yang ada di Jawa memang masih begitu kental dengan aroma mistik, apalagi yang tinggal di daerah pedalaman. Sehingga banyak yang menganggap hal itu wajar dan biasa-biasa saja, meski mereka juga sadar bahwa saat ini mereka telah berada di abad 21 yang berarti abad denga berbagai macam tekhnologi modern.Tapi itulah kenyatan yang terjadi, irrasional mengalahkan rasional.
Menurut saya fenomena dukun cilik pionari merupakan pelarian dari masyarakat yang sejak lama tidak kunjung mendapatkan pelayanan yang baik untuk mendapatkan pengobatan. Inilah yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah agar masyarakat bisa mrndapatkan haknya sebagai warga negara.

[+/-] Selengkapnya...

2.25.2009

Trotoar Penyambung Hidup



Trotoar maerupakan bagian sisi jalan yang lebih tinggi, dimana diperuntukkan bagi para pejalan kaki. Keberadaan trotoar dikota-kota besar sangat penting untuk kenyuamanan para pejalan kaki, tetapi sayang, fungsi trotoar kini semakin tidak jelas, banyak yang menyalahgunakan fungsi trotoar demi kepentingan sebagian orang. Dikota-kota besar di Indonesia keberadaan trotoar selalu menjadi masalah utama, bagaimana tidak ?, sering kita lihat di telivisi atau membaca berita dikoran-koran, sejumlah petugas satpol pp bersitegang dengan pedagang kaki lima, beradu mulut, atau bahkan sampai terjadi bentrok fisik antara kedua belah pihak. Hal itu dikarenakan para petugas membongkar paksa lapak-lapak milik PKL yang berada disepanjang trotoar. Tindakam yang dilakukan oleh petugas tersebut memang benar, sebab trotoar bukan berfungsi sebagai tempat berjualan, keberadaan para pedagang kaki lima itu pun otomatis mengganggu pejalan kaki dan juga merusak keindahan tata kota.

Tetapi bagi para pedagang, trotoar adalah tempat menyambung hidup dari hari ke hari, trotoar adalah tempat untuk mencari nafkah buat keluarga mereka. Nah jika kita memandang dari satu sisi saja maka pasti kedua belah pihak masing-masing merasa benar sendiri. Satpol pp benar karena trotoar itu memang untuk pejalan kaki, para PKL juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan, ingat hak asasi manusia yang paling asasi adalah hak untuk hidup, para pedagang kaki lima itu bekerja untuk kelangsungan hidup mereka.

Trotoar memang menjadi sesuatu yang menarik untuk diperbincangkan terkait kebiasaan dari sebagian masyarakat kita yang menggunakan trotoar sebagai wujud aktifitas kerja mereka. Kebiasaan yang mungkin sangat susah untuk dihilangkan karena trotoar bagi sebagian orang adalah penyambung hidup mereka. Bagi Negara berkembang seperti Indonesia mungkin hal itu wajar-wajar saja, sebab kemiskinan, pengangguran, dan kurangnya lapangan pekerjaan menyebabkan masyarakat ingin menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, ya salah satu contohnya dengan menjadi pedagang kaki lima.


Merubah kebiasaan itu sangat susah dilakukan, apalagi bila kebiasaan itu sudah mengakar begitu kuat. Penggusuran ataupun pembongkaran paksa lapak-lapak PKL bukan lah solusi yang baik dan tepat. Coba kita lihat dan cermati, meski lapak-lapak itu dibongkar, esoknya pasti muncul lagi, begitu seterusnya dan seterusnya, seolah-olah masalah ini tidak ada habis-habisnya. Mungkin masalah ini akan teratasi jika Negara kita sudah maju, perekonomian maju, dan pola pikir masyarakat yang maju pula yang artinya Negara kita memiliki masyarakat yang terdidik.


Fenomena trotoar di Indonesia seharusnya bukan hanya menjadi wacana, tetapi setidaknya ada langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi dengan tidak merugikan berbagai pihak tentunya. So, bagaimana menurut anda ?, sebagai pejalan kaki apakah anda merasa terampas haknya karena keberadaan PKL di trotoar ?, atau anda bersikap biasa-biasa saja dan menilai hal itu sebagai sesuatu yang wajar, sebab munculnya para pedagang kaki lima yang mangkal di trotoar merupakan konsekwensi logis dari lahirnya sebuah kota, dimana sebagian besar masyarakat kita beranggapan bahwa kota adalah tempat terbaik untuk mencari nafkah dan menjanjikan kehidupan yang lebih baik.


[+/-] Selengkapnya...

2.02.2009

Mengenal Dunia Maritim Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan, antara pulau yang satu dengan pulau yang lainnya dipisahkan oleh laut, tapi dalam hal ini laut bukan menjadi penghalang bagi tiap suku bangsa di Indonesia untuk saling berhubungan dengan suku-suku di pulau lainnya. Sejak zaman bahari, pelayaran dan perdagangan antar pulau telah berkembang dengan menggunakan berbagai macam tipe perahu tradisional, nenek moyang kita menjadi pelaut-pelaut handal yang menjelajahi untuk mengadakan kontak dan interaksi dengan pihak luar. Bahkan, yang lebih mengejutkan lagi, pelayaran yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia (Nusantara) pada zaman bahari telah sampai ke Mandagaskar. Bukti dari berita itu sendiri adalah berdasarkan penelitian yang dilakukan yaitu tipe jukung yang sama yang digunakan oleh orang-orang Kalimantan untuk berlayar “Fantastis”. Apa yang terjadi dalam dunia maritim Indonesia pada zaman bahari telah menjadi Trade Mark bahwa Indonesia merupakan negara maritim. Tetapi apakah benar sekarang ini Indonesia merupakan negara maritim? Negara yang mempunyai banyak pulau, luasnya laut, belum menjadi modal utama bahwa negara tersebut adalah negara maritim. Namun, seberapa besar penduduk suatu negara itu berorientasi ke laut, itulah yang menjadi acuan bahwa negara itu adalah negara maritim. Bagaimana dengan Indonesia? Mengutip pernyataan salah seorang sejarawan kal-sel yaitu bapak Bambang subiyakto dalam tulisannya yang berjudul”Pelayaran, pelabuhan dan perdagangan Banjarmasin 1857-1957” bahwa Indonesia adalah “Negara kepulauan”, Indonesia adalah “Nusantara”, Indonesia adalah “Negara Maritim” dan Indonesia adalah “Bangsa Bahari”,”Berjiwa Bahari” serta “Nenek Moyangku Orang Pelaut” hanya merupakan slogan kata, sloganistis. Suatu hal yang hanya diucapkan belaka oleh manusia Indonesia sejak “Balita” sampai “Manula”. Sebuah pernyataan yang relevan dan sesuai untuk menggambarkan citra dunia maritim Indonesia saat ini.
Indoneisa menyandang predikat “Negara Maritim” dan juga “Negara Agraris”. Predikat itu telah ada sejak zaman kerajaan, dimana kerajaan-kerajaan tersebut masing-masing berorientasi ke laut dan juga berorientasi ke pedalaman, dalam hal ini pertanian. Kita bisa bangga, bagaimana kerajan Sriwijaya dan kerajan majapahit menjadi kekuatan yang begitu besar dan mempunyai pengaruh yang sangat kuat di Asia Tenggara, itu semua dikarenakan mereka membangun kekuatan dengan mengembangkan kemaritiman untuk kejayaan negara, meski setelah Sriwijaya dan Majapahit runtuh dikarenakan pergolakan politik dalam negeri dan juga mulai meluasnya pengaruh Islam pada zaman Majapahit. Namun, potensi kemaritiman terus berkembang. Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di pesisir pantai seperti Demak, Banten, Aceh, dan lain-lain. Menjadi bukti bahwa kerajaan-kerajaan tersebut terus mengembangkan potensi laut untuk kejayaan negaranya masing-masing.

Laut dijadikan ladang mata pencaharian, laut juga dijadikan sebagai tempat menggalang kekuatan, mempunyai armada laut yang kuat berarti bisa mempertahankan kerajaan dari serangan luar. Memang, laut dalam hal ini menjadi suatu yang sangat penting sejak zaman dahulu sampai zaman sekarang. Mengoptimalkan potensi laut menjadi harga mati yang harus segera di realisasikan oleh pemerintah Indonesia.
Berkaca dari masa lalu, melihat bagaimana kejayaan masa lampau diperoleh karena mengoptimalkan potensi laut sebagai sarana dalam suksesnya perekonomian dan ketahanan politik suatu negara, maka menjadi suatu hal yang wajar bila sekarang ini Indonesia harus lebih mengembangkan laut demi tercapianya tujuan nasional. Indonesia menyandang predikat “Negara Maritim” atau negara kepulauan, predikat ini mustahil ditinggalkan, lain halnya dengan predikat “Negara Agraris” yang suatu saat bisa berganti dengan industri. Konsekwensi sifat maritim itu sendiri lebih mengarah pada terwujudnya aktifitas pelayaran di wilayah Indonesia. Dalam kalimat ini bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan dalam membangun perekonomian akan senantiasa dilandasi oleh aktivitas pelayaran. Pentingnya pelayaran bagi Indonesia tentunya disebabkan oleh keadaan geografisnya, posisi Indonesia yang strategis berada dalam jalur persilangan dunia, membuat Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengembangkan laut. Laut akan memberikan manfaat yang sangat vital bagi pertumbuham dan perkembangan perekonomian Indonesia atau perdaganagan pada khususnya.

Dunia maritim Indonesia telah mengalami kemunduran yang cukup signifikan, kalau pada zaman dahulu mencapai kejayan baik dalam bidang politik maupun ekonomi, sekarang ini tidak tampak sedikit pun kemajuan yang dapat dilihat. Ironis memang, Indonesia yang mempunyai potensi laut sangat besar di dunia kurang begitu memperhatikan sektor ini. Padahal, laut menjadi salah satu faktor dalam mempertahankan eksestensi wilayah suatu negara “Bahkan barang siapa yang menguasai laut, ia akan menguasai dunia”, demikian dalil yang dikemukakan oleh Mahan, wajar saja kalau Mahan mengeluarkan pernyataan tersebut, dalam karyanya yang berjudul “The Influence of Sea Power Upon History” (1660-1783), yang terbit untuk pertama kalinya pada tahun 1890 dan telah mengalami cetakan ulang beberapa kali, Alfred Thayer Mahan menggambarkan proses pertumbuhan Inggris yang pada abad ke-19 telah menjadi adidaya laut yang menguasai dunia pada waktu itu. Angkatan lautnya disegani dunia, sedangkan armada niaganya menjelajahi seluruh samudera, bangsa yang menguasai daratan betapa pun besar dan kuatnya angkatan daratnya, tidak akan mampu menguasai dunia. Di daratan banyak rintangan berupa gunung, jurang dan sebagainya, sedangkan laut merupakan lapangan yang luas, bebas dan terbuka. Buku Mahan in ternyata berpengaruh sekali terhadap kekuatan-kekuatan dunia pada waktu itu, Inggris semakin meningkatkan kemampuan maritim. Pada akhir abad XIX, Amerika serikat di bawah Theodore Rosevolt, Jerman di bawah kaisar Wilhem II dan Jepang dibawah pemerintahan Meiji mulai membangun kekuatan laut yang besar.
Studi Mahan telah membuktikan bahwa bukan jumlah penduduk semata-mata yang membuat suatu bangsa berjaya, melainkan jumlah pendududk yang berorientasikan ke laut dan yang ditopang oleh pemerintah yang memperhatikan dunia Baharinya.

Harus di akui bahwa orientasi ke dunia bahari sudah dimulai sejak kita menerima wawasan Nusantara sebagai dasar pemikiran negara, namun dikalangan banyak pengambil keputusan, wawasan ini masih berupa slogan. Wawasan nusantara setiap jengkal wilayah sama penting, akan tetapi masih banyak pulau belum disentuh, malahan belum ada namanya. Hanya jika sebuah pulau disengketakan oleh negara lain, baru ada upaya untuk memperhatikannya. Sepeti kasus pulau Sipadan dan Ligitan juga kepulauan Ambalat yang berbuntut pada sengketa panas antara Indonesia dengan Malaysia. Agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali, hendaknya pemerintah Indonesisa mengambil langkah-langkah untuk segera mengamankan pualu-pulau terluar di Indonesia agar tidak di caplok oleh negara tetangga. Mungkin negara-negara tetangga seperti Malaysia menganggap remeh kekuatan laut kita hingga ia begitu berani keluar masuk perairan Indonesia. Untuk itu sudah saatnya lah kita bangkit, mari bersama-sama membangun kembali dunia maritim Indonesia,menhargai laut dan menjaga eksistensi. Sekarang laut bukan hanya sebagai sumber protein dan tempat pelaut mengadakan hubungan antar pulau. Pertambangan laut dan pemanfaatanya sebagai sumber energi makin banyak dikembangkan, begitu pula usaha wisata bahari. Dengan kata lain, kompleksitas dunia bahari makin berekembang sehingga perlu antisipasi untuk merencanakan masa depan bangsa negara.

[+/-] Selengkapnya...

1.21.2009

Senyum Ibu Pertiwi


Senyum negeriku


Senyum tanah airku


Senyum yang selalu ku rindu


Sejak lahir dari perutmu




Senyum damaimu


Tak kulihat lagi hingga kini


Dimana kau simpan senyum itu ?


Kenapa engkau malah meratap


Kau Menangis tersedu begitu pilu

Aku hanya ingin senyum itu ibu


Senyum pada anak negerimu




[+/-] Selengkapnya...

1.20.2009

Mahasiswa UNLAM yang teraniaya

Adzan subuh mulai bergema, mata ini serasa berat untuk dibuka, tubuhku sepertinya ga mau diajak bangun dari tempat tidur. Aaah, ini gara-gara begadang tadi malam, imbas dari nonton bola antara Indonesia vs oman, jam satu baru bisa tidur. Teman satu rumahku, sesama mahasiswa unlam membangunkanku untuk segara bangun, kulihat weker, waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, dengan agak sedikit malas aku pun beranjak bangun dari tempat tidur. Terus terang baru kali ini aku bangun sepagi ini, biasanya sih jam enam baru bangun he he. Yach hari ini aku dan teman-teman punya planning, kami harus berjibaku untuk mengantre giliran berfoto di aula rektorat unlam untuk mendapatkan kartu mahasiswa dan kartu rencana studi. Beda dengan tahun-tahun yang lalu, sekarang untuk mendapatkan KTM dan KRS, mahasiswa unlam harus berfoto langsung, persis seperti pembuatan SIM di kepolisian, tapi karena kurang sosialisasi dan peralatan yang terbatas, proses pembuatannya jadi lamban. Huuh bisa dibayangkan setiap harinya aula rektorat penuh sesak oleh ribuan mahasiswa yang mengantre. pukul 06.00 tepat aku pun berangkat menuju kampus, hari masih gelap, aku memacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang, aku menebak kalau direktorat pasti masih sedikit mahasiswa yang mengantri, tapi apa yang kutebak ternyata meleset, didalam aula sudah banyak mahasiswa, sebagian kursi yang disediakan sudah terisi.

Aku segera mengambil posisi duduk, tidak lupa mengaplingkan tempat buat temanku opik dan erin, alhamdulillah, aku bersyukur karena merasa sudah punya posisi aman untuk mendapatkan kartu antrean. Tidak lama kemudian datang erin, disusul oleh opik, setelah mereka duduk kami pun ngbrol kesana kemari, membahas masalah registrasi yang prosesnya lambat dan memakan banyak waktu, sesekali mengecam para petinggi rektorat yang mengeluarkan kebijakan tapi sangat merugikan mahasiswa, kita ini mahasiswa yang teraniaya kata ku dengan sedikit kesal. Hawa panas pun mulai sangat terasa, padahal waktu masih menunjukkan pukul 06.30, hal ini dikarenakan aula sudah penuh sesak, para mahasiswa berjubel tidak karuan, ditengah, di pinggir, dimuka dan dibelakang semuanya ingin mendapatkan kartu antrean. pukul 08.00, pegawai rektorat yang berjumlah sekitar enam orang mulai mempersiapkan peralatan. Satu orang pegawai ibu-ibu nampak mengambil mikropon, dengan suaranya yang khas ibu itu mulai bicara," hari ini kita menyelesaikan untuk antrean yang telah dibagi tadi malam" katanya dengan logat khas banjar yang kental. huuuuuuuu, suara riuh pun terdengar tanda kecewa para mahasiswa, ibu itu nampak marah karena disoraki. Akhirnya kami pun harus bersabar menunggu pembagian kartu antrean, entah jam berapa kami akan mendapatkannya. Kami mengira kartu antrean itu cuma 300 lembar, eh ternyata jumlahnya mencapai 500 lembar, rasa sakit hati aku mendengarnya. Hawa panas semakin menyengat, perutku yang tidak diisi sama sekali terasa perih, lengkap dah penderitaan gumamku.

Kulihati wajah temanku, wajahnya nampak kuyu, kulihati dua orang yang duduk dimuka ku, mereka malah asyik bermesraan, jadi ngiri hati ini he he. sesekali terdengar ibu-ibu pegawai rektorat yang menegur mahasiswa yang menggerombol dimuka untuk pindah kebelakang. Tapi perintah itu seperti dianggap angin lalu oleh para mahasiswa, mereka tetap saja berdiri dimuka, huh kesel juga melihat yang seperti itu, sepertinya mahasiswa-mahasiswa di unlam sedikit sekali yang mempunyai pemahaman tentang pentingnya antre, dalam artian budaya antre masih menjadi sesuatu nyang langka. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, yaitu sekitar tujuh jam, kartu antrean pun dibagi, beruntung yang duduk dikursi karena hanya yang duduk dikursi saja yang diberi, meski ada saja yang berlaku curang, mereka yang berdiri ada juga yang dapat, bengan tipu muslihat tentunya. Aku sendiri mendapat kartu antrean nomor 91, erin 97 dan opik 89. Aaah lega rasanya, serasa hilang penat gara-gara duduk lama dikursi. Penantian yang cukup lama akhirnya selesai juga pada pukul 14.30, aku, erin, dan opik keluar dari aula rektorat dengan perasan senang bukan main. Kami langsug pergi ke kantin untuk mengisi perut yang sejak dari tadi pagi kosong. Itulah tadi sepenggal kisah dari seorang mahasiswa yang teraniaya he he, buat mahasiswa unlam yang masih teraniaya lainnya, bersabar aja ya he he..

[+/-] Selengkapnya...

1.15.2009

Wanita dan Pembangunan

Wanita merupakan bagian integral dari mayarakat. Tidak ada emansipasi wanita sejati tanpa adanya emansipasi masyarakat itu sendiri, begitu pula sebaliknya. Wanita adalah sosok yang mempunyai peran sangat penting, baik itu dalam ruang lingkup kehidupan yang terkecil yaitu keluarga, maupun dalam kehidupan bermayarakat, berbangsa dan bernegara. Di Indonesia wanita begitu disanjung dan diagungkan sedemikian rupa sehingga mempunyai kebanggaan tersendiri. Meski dalam fakta dan realita yang terjadi sangat bertolak belakang dengan apa yang telah di ungkapkan tersebut.

Dalam catatan sejarah bangsa ini, banyak sekali tokoh-tokoh wanita yang mempunyai peran besar dalam pembangunan. Pada masa kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia tentu kita mengenal siapa itu Pramudiawardhani ataupun Tribhuana Tungga Dewi, mereka adalah sosok wanita yang mempunyai kedudukan tertinggi dalam pemerintahan dengan menjadi seorang Ratu yang memimpin kerajaan. Kemudian pada masa negeri ini dijajah oleh pemerintahan kolonial Belanda, muncul tokoh-tokoh wanita yang menjadi inspirator untuk berjuang melawan penjajahan seperti Tjut Nyak Dien, Christina Martha Tiahahu dan lain-lain. Bahkan pada masa itu pula lahir seorang tokoh besar bagi negeri ini, dia adalah Kartini, seorang wanita yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kaumnya. Bukunya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang menjadi inspirasi bagi setiap wanita untuk menjadi seseorang yang memiliki integritas, memaksimalkan kemampuannya dan menjadi wanita yang tidak selalu diremehkan keberadaannya.

Memang wanita Indonesia saat ini semakin maju, makin banyak wanita yang menduduki posisi penting dan masuk dalam bidang-bidang yang secara tradisi selalu menjadi milik kaum laki-laki. Bahkan, Negara ini pernah dipimpin oleh Megawati Soekarno Putri, seorang presiden wanita Indonesia pertama. Tetapi ternyata hal itu belum cukup untuk memperjuangkan aspirasi dan hak-hak wanita Indonesia. Masih banyak sekali kaum wanita yang menjadi korban-korban penindasan dan eksploitasi berlebihan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.

Wanita-wanita Indonesia saat ini dihadapkan pada tekanan-tekanan hidup yang membuat wanita itu ikut menanggung beban keluarga. Banyak sekali para wanita yang ikut bekerja membantu suami untuk menghidupi keluarga dengan seluruh kemampuannya. Disinilah beratnya tekanan yang dihadapi oleh wanita, selain harus berperan dalam keluarga sebagai peñata rumah tangga, wanita juga harus menghadapi kenyataan untuk mencari nafkah bagi keluarga. Belum lagi bila ada kejadian-kejadian yang menimpa para wanita, seperti kekerasan dalam rumah tangga, atau pun kekerasan yang dialami saat ia bekerja. Kondisi ini tentu memprihatinkan. Kita masih ingat bagaimana para tenaga kerja wanita Indonesia yang bekerja diluar negeri begitu dilecehkan, ada yang diperkosa majikannya sendiri, kemudian disiksa dan berbagai bentuk pelecehan lainnya. Bahkan yang sangat menyedihkan adalah perdagangan manusia dimana sebagian besar obyeknya adalah para wanita.

Ironis, apa yang terjadi pada kaum wanita telah menodai segala pengagungan terhadap wanita itu sendiri, yang pada akhirnya kata-kata indah sanjungan terhadap wanita hanyalah suatu pengagungan terhadap system, bukan pada wanita itu sendiri.

[+/-] Selengkapnya...

1.10.2009

SOLUSI KEPENDUDUKAN

Indonesia merupakan salah satu Negara yang mempunyai jumlah penduduk sangat besar. Kepadatan penduduk di wilayah Negara Indonesia tidaklah sama. Jawa merupakan daerah yang jumlah penduduknya paling besar dibandingkan dengan daerah lain, padahal Jawa adalah sebuah pulau yang kecil, tetapi pertumbuhan penduduknya sangat cepat. Hal ini menimbulkan permasalahan tersendiri karena tanah yang ada di Jawa tidak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sebagian besar penduduknya.

Luas daratan wilayah Indonesia 1.904.345 km persegi yang terdiri dari beribu-ribu pulau besalah satr dan kecil. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus tahun 1972 mencapai seratus dua puluh juta orang. Pada tahun 1975 diperkirakan penduduk Indonesia mencapai seratus tiga puluh juta penduduk. Pulau Jawa dan Madura yang luasnya 7% dari luas Indonesia berpenduduk 76 juta jiwa atau 64% dari penduduk Indonesia, sedangkan pulau-pulau lainnya, seperti Kalimantan misanya yang luas 28% penduduknya hanya berjumlah 4.80.000 jiwa.

Untuk mencapai pemerataan dan keseimbangan dalam penyebaran penduduk maka salah satu jalan dalam mengatasi masalah kependudukan ialah dengan mengadakan transmigrasi. Transmigrasi merupakan perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain dalam wilayah Indonesia umumnya orang-orang yang mengikuti program transmigrasi berasal dari Jawa, Madura, dan Bali, mereka biasanya ditempatkan di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Maluku, Irian Jaya, dan Nusantara.
Pulau Kalimantan yang merupakan salah satu pulau besar di Indonesia dan memilki jumlah penduduk yang relatif sedikit menjadi salah satu tempat tujuan transmigrasi. Wilayah ini mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengembangkan pertanian, dengan lahan yang masih luas dan tanah yang subur terbuka peluang untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik bagi para transmigran.

Pemerataan penduduk melalui transmigrasi dianggap penting mengingat kekayaan alam yang merupakan modal pokok dalam pembangunan nasional, yang masih terpendam dalam bumi Indonesia belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Pembangunan di bidang transmigrasi sangat erat hubungannya dengan pembangunan daerah, baik di daerah asal maupun daerah penerima. Dari berbagai studi telah didapatkan keterangan tentang keadaan para transmigran umum ketika di daerah asal. Transmigrasi umum di Kalimantan Selatan misalnya, 61% tidak memiliki tanah ketika di daerah asal ( hardjosoenarto dalam Friedrich, 1980:94 ). Transmigrasi adalah perpindahan tempat, suatu gerakan yang mempunyai motivasi, dengan berbagai factor yang melatarbelakanginya, ( Suyitno, 1980:116 ).

[+/-] Selengkapnya...

1.06.2009

Derita Palestina


ketika bom meledak di gaza
takbir bergema seantero dunia
Allahu akbar….
suara-suara tangisan dan rintihan menyayat pilu
menusuk kalbu, membuat hati miris dan semakin teriris


mereka zionis
dan terlampau bengis
diamkah kita?
bukalah hati
gerakkan nurani


panjatkan doa untuk saudara-saudara kita
untuk rakyat palestina..
untuk mereka yang selalu tertindas dan teraniaya.



[+/-] Selengkapnya...

Demokrasi di Indonesia


Pesta demokrasi rakyat Indonesia segera di mulai pada tahun 2009. partai-partai peserta pemilu mulai gencar melakukan kampanye untuk manarik simpati rakyat dan memperkenalkan para caleg-calegnya. Tidak ada yang berubah dari penyelenggaraan pemilu-pemilu sebelumnya setelah revormasi bergulir. Pemilu kali ini tetap di ikuti oleh banyak partai, partai-partai gurem pun bermunculan untuk bisa bersaing dengan partai-partai besar yang sudah mapan. Fenomena ini tentunya menjadi catatan menarik bagi sejarah bangsa ini, sejak pertama kali menyelenggarakan pemilu pada tahun 1955 yang di ikuti oleh banyak partai, kemudian di sederhanakan menjadi tiga partai pada masa orde baru, kini setelah revormasi bergulir, penyelenggaraan pemilu selalu di ikuti banyak partai. Ini adalah salah satu bentuk dari luapan emosional kebebasan, setelah kurang lebih 32 tahun bangsa ini di kekang oleh rezim soeharto. Meski dalam realitasnya sekarang, kebebasan setelah revormasi ini ternyata ikut menampilkan sisi buruk bagi bangsa ini. Demokrasi yang di usung setelah jatuhnya orde baru ternyata semakin kebablasan, wajah demokrasi Indonesia semakin kabur dan tidak jelas. Satu yang menjadi pertanyaan mendasar yang hendaknya kita renungkan bersama apakah benar dengan adanya anggapan bahwa semakin banyak partai itu mencerminkan kondisi demokrasi yang bagus?.

Sulit untuk mengatakan bahwa demokrasi akan terwujud dengan baik di negeri ini. Mengingat semakin menipisnya pemahaman dan perilaku demokrasi bangsa kita. Memang demokrasi yang ada di setiap Negara itu berbeda satu sama lain, hal itu di karenakan demokrasi disesuaikan dengan kondisi sosial budaya bangsa tersebut. Tetapi inti dari demokrasi itu tetaplah sama. Di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, dikenal dengan demokrasi liberal, ada juga yang memakai demokrasi parlementer, bahkan Indonesia dimasa orde lama yang dipimpin oleh soekarno pernah melaksanakan pemerintahan dengan demokrasi terpimpin. Prinsip dari pemerintahan demokrasi itu sendiri adalah pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, artinya pemerintahan yang diselenggarakan haruslah berorientasi pada rakyat dan tidak menyelewengkan amanah rakyat.

[+/-] Selengkapnya...

My Future ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO