2.02.2009

Mengenal Dunia Maritim Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan, antara pulau yang satu dengan pulau yang lainnya dipisahkan oleh laut, tapi dalam hal ini laut bukan menjadi penghalang bagi tiap suku bangsa di Indonesia untuk saling berhubungan dengan suku-suku di pulau lainnya. Sejak zaman bahari, pelayaran dan perdagangan antar pulau telah berkembang dengan menggunakan berbagai macam tipe perahu tradisional, nenek moyang kita menjadi pelaut-pelaut handal yang menjelajahi untuk mengadakan kontak dan interaksi dengan pihak luar. Bahkan, yang lebih mengejutkan lagi, pelayaran yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia (Nusantara) pada zaman bahari telah sampai ke Mandagaskar. Bukti dari berita itu sendiri adalah berdasarkan penelitian yang dilakukan yaitu tipe jukung yang sama yang digunakan oleh orang-orang Kalimantan untuk berlayar “Fantastis”. Apa yang terjadi dalam dunia maritim Indonesia pada zaman bahari telah menjadi Trade Mark bahwa Indonesia merupakan negara maritim. Tetapi apakah benar sekarang ini Indonesia merupakan negara maritim? Negara yang mempunyai banyak pulau, luasnya laut, belum menjadi modal utama bahwa negara tersebut adalah negara maritim. Namun, seberapa besar penduduk suatu negara itu berorientasi ke laut, itulah yang menjadi acuan bahwa negara itu adalah negara maritim. Bagaimana dengan Indonesia? Mengutip pernyataan salah seorang sejarawan kal-sel yaitu bapak Bambang subiyakto dalam tulisannya yang berjudul”Pelayaran, pelabuhan dan perdagangan Banjarmasin 1857-1957” bahwa Indonesia adalah “Negara kepulauan”, Indonesia adalah “Nusantara”, Indonesia adalah “Negara Maritim” dan Indonesia adalah “Bangsa Bahari”,”Berjiwa Bahari” serta “Nenek Moyangku Orang Pelaut” hanya merupakan slogan kata, sloganistis. Suatu hal yang hanya diucapkan belaka oleh manusia Indonesia sejak “Balita” sampai “Manula”. Sebuah pernyataan yang relevan dan sesuai untuk menggambarkan citra dunia maritim Indonesia saat ini.
Indoneisa menyandang predikat “Negara Maritim” dan juga “Negara Agraris”. Predikat itu telah ada sejak zaman kerajaan, dimana kerajaan-kerajaan tersebut masing-masing berorientasi ke laut dan juga berorientasi ke pedalaman, dalam hal ini pertanian. Kita bisa bangga, bagaimana kerajan Sriwijaya dan kerajan majapahit menjadi kekuatan yang begitu besar dan mempunyai pengaruh yang sangat kuat di Asia Tenggara, itu semua dikarenakan mereka membangun kekuatan dengan mengembangkan kemaritiman untuk kejayaan negara, meski setelah Sriwijaya dan Majapahit runtuh dikarenakan pergolakan politik dalam negeri dan juga mulai meluasnya pengaruh Islam pada zaman Majapahit. Namun, potensi kemaritiman terus berkembang. Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di pesisir pantai seperti Demak, Banten, Aceh, dan lain-lain. Menjadi bukti bahwa kerajaan-kerajaan tersebut terus mengembangkan potensi laut untuk kejayaan negaranya masing-masing.

Laut dijadikan ladang mata pencaharian, laut juga dijadikan sebagai tempat menggalang kekuatan, mempunyai armada laut yang kuat berarti bisa mempertahankan kerajaan dari serangan luar. Memang, laut dalam hal ini menjadi suatu yang sangat penting sejak zaman dahulu sampai zaman sekarang. Mengoptimalkan potensi laut menjadi harga mati yang harus segera di realisasikan oleh pemerintah Indonesia.
Berkaca dari masa lalu, melihat bagaimana kejayaan masa lampau diperoleh karena mengoptimalkan potensi laut sebagai sarana dalam suksesnya perekonomian dan ketahanan politik suatu negara, maka menjadi suatu hal yang wajar bila sekarang ini Indonesia harus lebih mengembangkan laut demi tercapianya tujuan nasional. Indonesia menyandang predikat “Negara Maritim” atau negara kepulauan, predikat ini mustahil ditinggalkan, lain halnya dengan predikat “Negara Agraris” yang suatu saat bisa berganti dengan industri. Konsekwensi sifat maritim itu sendiri lebih mengarah pada terwujudnya aktifitas pelayaran di wilayah Indonesia. Dalam kalimat ini bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan dalam membangun perekonomian akan senantiasa dilandasi oleh aktivitas pelayaran. Pentingnya pelayaran bagi Indonesia tentunya disebabkan oleh keadaan geografisnya, posisi Indonesia yang strategis berada dalam jalur persilangan dunia, membuat Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengembangkan laut. Laut akan memberikan manfaat yang sangat vital bagi pertumbuham dan perkembangan perekonomian Indonesia atau perdaganagan pada khususnya.

Dunia maritim Indonesia telah mengalami kemunduran yang cukup signifikan, kalau pada zaman dahulu mencapai kejayan baik dalam bidang politik maupun ekonomi, sekarang ini tidak tampak sedikit pun kemajuan yang dapat dilihat. Ironis memang, Indonesia yang mempunyai potensi laut sangat besar di dunia kurang begitu memperhatikan sektor ini. Padahal, laut menjadi salah satu faktor dalam mempertahankan eksestensi wilayah suatu negara “Bahkan barang siapa yang menguasai laut, ia akan menguasai dunia”, demikian dalil yang dikemukakan oleh Mahan, wajar saja kalau Mahan mengeluarkan pernyataan tersebut, dalam karyanya yang berjudul “The Influence of Sea Power Upon History” (1660-1783), yang terbit untuk pertama kalinya pada tahun 1890 dan telah mengalami cetakan ulang beberapa kali, Alfred Thayer Mahan menggambarkan proses pertumbuhan Inggris yang pada abad ke-19 telah menjadi adidaya laut yang menguasai dunia pada waktu itu. Angkatan lautnya disegani dunia, sedangkan armada niaganya menjelajahi seluruh samudera, bangsa yang menguasai daratan betapa pun besar dan kuatnya angkatan daratnya, tidak akan mampu menguasai dunia. Di daratan banyak rintangan berupa gunung, jurang dan sebagainya, sedangkan laut merupakan lapangan yang luas, bebas dan terbuka. Buku Mahan in ternyata berpengaruh sekali terhadap kekuatan-kekuatan dunia pada waktu itu, Inggris semakin meningkatkan kemampuan maritim. Pada akhir abad XIX, Amerika serikat di bawah Theodore Rosevolt, Jerman di bawah kaisar Wilhem II dan Jepang dibawah pemerintahan Meiji mulai membangun kekuatan laut yang besar.
Studi Mahan telah membuktikan bahwa bukan jumlah penduduk semata-mata yang membuat suatu bangsa berjaya, melainkan jumlah pendududk yang berorientasikan ke laut dan yang ditopang oleh pemerintah yang memperhatikan dunia Baharinya.

Harus di akui bahwa orientasi ke dunia bahari sudah dimulai sejak kita menerima wawasan Nusantara sebagai dasar pemikiran negara, namun dikalangan banyak pengambil keputusan, wawasan ini masih berupa slogan. Wawasan nusantara setiap jengkal wilayah sama penting, akan tetapi masih banyak pulau belum disentuh, malahan belum ada namanya. Hanya jika sebuah pulau disengketakan oleh negara lain, baru ada upaya untuk memperhatikannya. Sepeti kasus pulau Sipadan dan Ligitan juga kepulauan Ambalat yang berbuntut pada sengketa panas antara Indonesia dengan Malaysia. Agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali, hendaknya pemerintah Indonesisa mengambil langkah-langkah untuk segera mengamankan pualu-pulau terluar di Indonesia agar tidak di caplok oleh negara tetangga. Mungkin negara-negara tetangga seperti Malaysia menganggap remeh kekuatan laut kita hingga ia begitu berani keluar masuk perairan Indonesia. Untuk itu sudah saatnya lah kita bangkit, mari bersama-sama membangun kembali dunia maritim Indonesia,menhargai laut dan menjaga eksistensi. Sekarang laut bukan hanya sebagai sumber protein dan tempat pelaut mengadakan hubungan antar pulau. Pertambangan laut dan pemanfaatanya sebagai sumber energi makin banyak dikembangkan, begitu pula usaha wisata bahari. Dengan kata lain, kompleksitas dunia bahari makin berekembang sehingga perlu antisipasi untuk merencanakan masa depan bangsa negara.

[+/-] Selengkapnya...

1.21.2009

Senyum Ibu Pertiwi


Senyum negeriku


Senyum tanah airku


Senyum yang selalu ku rindu


Sejak lahir dari perutmu




Senyum damaimu


Tak kulihat lagi hingga kini


Dimana kau simpan senyum itu ?


Kenapa engkau malah meratap


Kau Menangis tersedu begitu pilu

Aku hanya ingin senyum itu ibu


Senyum pada anak negerimu




[+/-] Selengkapnya...

1.20.2009

Mahasiswa UNLAM yang teraniaya

Adzan subuh mulai bergema, mata ini serasa berat untuk dibuka, tubuhku sepertinya ga mau diajak bangun dari tempat tidur. Aaah, ini gara-gara begadang tadi malam, imbas dari nonton bola antara Indonesia vs oman, jam satu baru bisa tidur. Teman satu rumahku, sesama mahasiswa unlam membangunkanku untuk segara bangun, kulihat weker, waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, dengan agak sedikit malas aku pun beranjak bangun dari tempat tidur. Terus terang baru kali ini aku bangun sepagi ini, biasanya sih jam enam baru bangun he he. Yach hari ini aku dan teman-teman punya planning, kami harus berjibaku untuk mengantre giliran berfoto di aula rektorat unlam untuk mendapatkan kartu mahasiswa dan kartu rencana studi. Beda dengan tahun-tahun yang lalu, sekarang untuk mendapatkan KTM dan KRS, mahasiswa unlam harus berfoto langsung, persis seperti pembuatan SIM di kepolisian, tapi karena kurang sosialisasi dan peralatan yang terbatas, proses pembuatannya jadi lamban. Huuh bisa dibayangkan setiap harinya aula rektorat penuh sesak oleh ribuan mahasiswa yang mengantre. pukul 06.00 tepat aku pun berangkat menuju kampus, hari masih gelap, aku memacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang, aku menebak kalau direktorat pasti masih sedikit mahasiswa yang mengantri, tapi apa yang kutebak ternyata meleset, didalam aula sudah banyak mahasiswa, sebagian kursi yang disediakan sudah terisi.

Aku segera mengambil posisi duduk, tidak lupa mengaplingkan tempat buat temanku opik dan erin, alhamdulillah, aku bersyukur karena merasa sudah punya posisi aman untuk mendapatkan kartu antrean. Tidak lama kemudian datang erin, disusul oleh opik, setelah mereka duduk kami pun ngbrol kesana kemari, membahas masalah registrasi yang prosesnya lambat dan memakan banyak waktu, sesekali mengecam para petinggi rektorat yang mengeluarkan kebijakan tapi sangat merugikan mahasiswa, kita ini mahasiswa yang teraniaya kata ku dengan sedikit kesal. Hawa panas pun mulai sangat terasa, padahal waktu masih menunjukkan pukul 06.30, hal ini dikarenakan aula sudah penuh sesak, para mahasiswa berjubel tidak karuan, ditengah, di pinggir, dimuka dan dibelakang semuanya ingin mendapatkan kartu antrean. pukul 08.00, pegawai rektorat yang berjumlah sekitar enam orang mulai mempersiapkan peralatan. Satu orang pegawai ibu-ibu nampak mengambil mikropon, dengan suaranya yang khas ibu itu mulai bicara," hari ini kita menyelesaikan untuk antrean yang telah dibagi tadi malam" katanya dengan logat khas banjar yang kental. huuuuuuuu, suara riuh pun terdengar tanda kecewa para mahasiswa, ibu itu nampak marah karena disoraki. Akhirnya kami pun harus bersabar menunggu pembagian kartu antrean, entah jam berapa kami akan mendapatkannya. Kami mengira kartu antrean itu cuma 300 lembar, eh ternyata jumlahnya mencapai 500 lembar, rasa sakit hati aku mendengarnya. Hawa panas semakin menyengat, perutku yang tidak diisi sama sekali terasa perih, lengkap dah penderitaan gumamku.

Kulihati wajah temanku, wajahnya nampak kuyu, kulihati dua orang yang duduk dimuka ku, mereka malah asyik bermesraan, jadi ngiri hati ini he he. sesekali terdengar ibu-ibu pegawai rektorat yang menegur mahasiswa yang menggerombol dimuka untuk pindah kebelakang. Tapi perintah itu seperti dianggap angin lalu oleh para mahasiswa, mereka tetap saja berdiri dimuka, huh kesel juga melihat yang seperti itu, sepertinya mahasiswa-mahasiswa di unlam sedikit sekali yang mempunyai pemahaman tentang pentingnya antre, dalam artian budaya antre masih menjadi sesuatu nyang langka. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, yaitu sekitar tujuh jam, kartu antrean pun dibagi, beruntung yang duduk dikursi karena hanya yang duduk dikursi saja yang diberi, meski ada saja yang berlaku curang, mereka yang berdiri ada juga yang dapat, bengan tipu muslihat tentunya. Aku sendiri mendapat kartu antrean nomor 91, erin 97 dan opik 89. Aaah lega rasanya, serasa hilang penat gara-gara duduk lama dikursi. Penantian yang cukup lama akhirnya selesai juga pada pukul 14.30, aku, erin, dan opik keluar dari aula rektorat dengan perasan senang bukan main. Kami langsug pergi ke kantin untuk mengisi perut yang sejak dari tadi pagi kosong. Itulah tadi sepenggal kisah dari seorang mahasiswa yang teraniaya he he, buat mahasiswa unlam yang masih teraniaya lainnya, bersabar aja ya he he..

[+/-] Selengkapnya...

My Future ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO