1.20.2009

Mahasiswa UNLAM yang teraniaya

Adzan subuh mulai bergema, mata ini serasa berat untuk dibuka, tubuhku sepertinya ga mau diajak bangun dari tempat tidur. Aaah, ini gara-gara begadang tadi malam, imbas dari nonton bola antara Indonesia vs oman, jam satu baru bisa tidur. Teman satu rumahku, sesama mahasiswa unlam membangunkanku untuk segara bangun, kulihat weker, waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, dengan agak sedikit malas aku pun beranjak bangun dari tempat tidur. Terus terang baru kali ini aku bangun sepagi ini, biasanya sih jam enam baru bangun he he. Yach hari ini aku dan teman-teman punya planning, kami harus berjibaku untuk mengantre giliran berfoto di aula rektorat unlam untuk mendapatkan kartu mahasiswa dan kartu rencana studi. Beda dengan tahun-tahun yang lalu, sekarang untuk mendapatkan KTM dan KRS, mahasiswa unlam harus berfoto langsung, persis seperti pembuatan SIM di kepolisian, tapi karena kurang sosialisasi dan peralatan yang terbatas, proses pembuatannya jadi lamban. Huuh bisa dibayangkan setiap harinya aula rektorat penuh sesak oleh ribuan mahasiswa yang mengantre. pukul 06.00 tepat aku pun berangkat menuju kampus, hari masih gelap, aku memacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang, aku menebak kalau direktorat pasti masih sedikit mahasiswa yang mengantri, tapi apa yang kutebak ternyata meleset, didalam aula sudah banyak mahasiswa, sebagian kursi yang disediakan sudah terisi.

Aku segera mengambil posisi duduk, tidak lupa mengaplingkan tempat buat temanku opik dan erin, alhamdulillah, aku bersyukur karena merasa sudah punya posisi aman untuk mendapatkan kartu antrean. Tidak lama kemudian datang erin, disusul oleh opik, setelah mereka duduk kami pun ngbrol kesana kemari, membahas masalah registrasi yang prosesnya lambat dan memakan banyak waktu, sesekali mengecam para petinggi rektorat yang mengeluarkan kebijakan tapi sangat merugikan mahasiswa, kita ini mahasiswa yang teraniaya kata ku dengan sedikit kesal. Hawa panas pun mulai sangat terasa, padahal waktu masih menunjukkan pukul 06.30, hal ini dikarenakan aula sudah penuh sesak, para mahasiswa berjubel tidak karuan, ditengah, di pinggir, dimuka dan dibelakang semuanya ingin mendapatkan kartu antrean. pukul 08.00, pegawai rektorat yang berjumlah sekitar enam orang mulai mempersiapkan peralatan. Satu orang pegawai ibu-ibu nampak mengambil mikropon, dengan suaranya yang khas ibu itu mulai bicara," hari ini kita menyelesaikan untuk antrean yang telah dibagi tadi malam" katanya dengan logat khas banjar yang kental. huuuuuuuu, suara riuh pun terdengar tanda kecewa para mahasiswa, ibu itu nampak marah karena disoraki. Akhirnya kami pun harus bersabar menunggu pembagian kartu antrean, entah jam berapa kami akan mendapatkannya. Kami mengira kartu antrean itu cuma 300 lembar, eh ternyata jumlahnya mencapai 500 lembar, rasa sakit hati aku mendengarnya. Hawa panas semakin menyengat, perutku yang tidak diisi sama sekali terasa perih, lengkap dah penderitaan gumamku.

Kulihati wajah temanku, wajahnya nampak kuyu, kulihati dua orang yang duduk dimuka ku, mereka malah asyik bermesraan, jadi ngiri hati ini he he. sesekali terdengar ibu-ibu pegawai rektorat yang menegur mahasiswa yang menggerombol dimuka untuk pindah kebelakang. Tapi perintah itu seperti dianggap angin lalu oleh para mahasiswa, mereka tetap saja berdiri dimuka, huh kesel juga melihat yang seperti itu, sepertinya mahasiswa-mahasiswa di unlam sedikit sekali yang mempunyai pemahaman tentang pentingnya antre, dalam artian budaya antre masih menjadi sesuatu nyang langka. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, yaitu sekitar tujuh jam, kartu antrean pun dibagi, beruntung yang duduk dikursi karena hanya yang duduk dikursi saja yang diberi, meski ada saja yang berlaku curang, mereka yang berdiri ada juga yang dapat, bengan tipu muslihat tentunya. Aku sendiri mendapat kartu antrean nomor 91, erin 97 dan opik 89. Aaah lega rasanya, serasa hilang penat gara-gara duduk lama dikursi. Penantian yang cukup lama akhirnya selesai juga pada pukul 14.30, aku, erin, dan opik keluar dari aula rektorat dengan perasan senang bukan main. Kami langsug pergi ke kantin untuk mengisi perut yang sejak dari tadi pagi kosong. Itulah tadi sepenggal kisah dari seorang mahasiswa yang teraniaya he he, buat mahasiswa unlam yang masih teraniaya lainnya, bersabar aja ya he he..

3 Comentários:

Anonim mengatakan...

Wah, bemakanan kada bebawaan neh....!!! Tau sudah....he

Anonim mengatakan...

Waduh kasian deh ... mudahan mengambil pelajaran dari hal yang tidak perlu tersebut. Tabah Mas, tabah. Dan, ... berjuang.

Anonim mengatakan...

Kacian Dech Lu. Tapi dach dapat khan KTMnya? Hehehe

Posting Komentar

My Future ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO